IBU BEKERJA bukan vs IBU RUMAH TANGGA

Tulisan yg sgt bijak ttg ftm dan wm, yg sayangnya diluar sana sering malah menjadi perdebatan :). Reblig dr muktiberbagi.wordpress.com

berbagi cinta & makna

Ini merupakan tulisan yang sudah lama saya rencanakan, tapi tertunda terus karena berbagai kesibukan. Tulisan yang lahir karena saya miris dengan saling tuding-menuding. Ini paling baik, itu tidak! Padahal keduanya adalah pilihan.

Sebelum masuk ke hal yang lebih serius, mari sejenak bayangkan dunia ini tanpa ibu-ibu yang mau bekerja di sektor publik. Nggak ada dokter kandungan perempuan, yang ada laki-laki atau dokter yang masih gadis. Nggak ada ibu guru, yang ada pak guru atau bu guru yang masih muda-muda. Nggak ada pembantu rumah tangga perempuan (yang sekedar menyuci nyetrika lalu pulang), karena mereka rerata juga adalah ibu. Nggak ada pedagang perempuan, kecuali yang masih gadis-gadis seusia SPG-SPG itu. Nggak ada psikolog perempuan, konsulnya dengan bapak-bapak psikolog aja. Nggak ada bidan perempuan yang senior, melahirkan pun dengan bidan muda yang baru lulus, atau dokter SpOG yang laki-laki.

Ini memang ekstrim banget ya. Sampai ada yang gemes bilang ke saya, “Sekalian…

View original post 2,233 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s