SEKOLAH KE LUAR NEGERI ATAU RESIGN ! “a self motivating”

Bagi gw, masa-masa pencarian beasiswa buat S2 keluar negeri, bukan hanya suatu rangkain hidup biasa, tapi telah menjadi rangkaian perjalanan waktu luar biasa yang pernah gw jalani, penuh dengan hikmah, menguras emosi, keringat, dan tentu saja uang J. Proses 5 tahun yang sama berkesannya dengan perjalanan 4 tahun gw selama menjadi mahasiswa ITB dengan segala romantikanya. Proses yang di ujungnya semakin membuat yakin atas apa yang namanya kerja keras, kesungguhan, berpikir positif, dan kuasa Allah SWT yang Maha menentukan dan Membola-balikan hati hambanya. Di catatan ini, gw coba mengupas proses mengesankan tersebut dengan harapan ada sedikit inspirasi yang bisa gw share dari orang biasa seperti gw ini namun mempunyai mimpi yang (menurut gw lho) luar biasa (luar biasa: diatas kemampuan diri).

 

Oke, mimpi ini dimulai ketika gw resmi menjadi seorang CPNS di salah satu lembaga riset negara ini. Profesi yang sebenernya ga ada di pikiran sama sekali di otak gw setelah lulus, hanya sebatas iseng-iseng doang. Gw lebih suka menyebutkan sebagai “karma” atau “hukuman” bagi gw. Kenapa gitu? Lo bayangin aja, orang kayak gw yg jarang serius waktu kuliah S1 (asal lulus mata kuliah doang), diterima di lembaga riset yang notabene hampir tiap hari bersinggungan dengan hal2 yang ga jauh dari apa yang kita pelajari di kuliah. Yup, gw terima “hukuman” itu.

 

Karena “hukuman” itu pula gw sempet merasa gw sedang berada di tempat yang bukan gw banget, bahasa anak jaman sekarangnye “G4LAU”. Kondisi yang amat sangat mengganggu performa gw. Bekerja tanpa passion itu seperti bekerja serabutan, tanpa arah, tanpa semangat, yang penting kelar. Hal ini diperparah dengan kondisi jobless diawal awal masa CPNS, minat yang tidak sesuai dengan penempatan bidang yang membuat gw kudu belajar banyak hal dari awal, satu persatu rekan se-almamater di sini mulai resign dengan berbagai alasan, hal-hal non teknis yang tidak sejalan dengan pendirian, dan yang ga kalah penting juga adalah gaji J. Jalan keluar yang ada di otak gw hanya “resign”. Selain selalu nge-check kiriman email dari beberapa portal lowongan kerja, harian Kompas edisi sabtu/minggu pun jadi santapan akhir pekan buat nyari lowongan J. Beberapa lamaran kerja juga udah sempet gw kirimkan.

 

Tapi ga mudah bagi gw untuk mengikuti jejak kawan2 se-almamater gw tsbdan pindah ke kerjaan lain. Banyak halangan teknis dan non-teknis yg gw hadapi, dari mulai ekspekstasi rekan-rekan di kantor yg terlalu tinggi ke gw dan ga mau kehilangan staff untuk kedua kalinya di tahun tersebut, sampai kebanggaan orang tua gw terhadap anaknya yg bisa jadi PNS (tidak ada di silsilah keluarga gw yg jadi PNS, sebelumnya). Alhasil, berdirilah gw disini sendiri, mencoba dan terus mencari arti knapa gw harus tetap disini, menghibur diri melalui keseharian yang terpaksa gw jalani, halah. Hal ini nyata gw alami dan gw lakukan, bukan sekedar hiperbola pemanis kata di cerita ini .

 

Ga ada doa khusus yang gw panjatkan ke Sang Maha Pemberi Petunjuk buat menghilangkan kebingungan gw, hanya niat semoga usaha buat nyenengin ortu gw bisa ini menjadi bentuk bakti gw ke orang tua, bakti ke negara (menjadi abdi negara yg baik), dan ibadah buat gw tentunya. Sekali lagi hanya melalui niat, niat dan niat. Hasilnya, niat baik, sesulit apapun dijalani akan berbuah kebaikan pula. Melalui waktu yang panjang, “buah”itu datang juga perlahan demi perlahan. Gw mulai menikmati apa yg disebut nikmat nya bekerja. Penempatan bidang kerja yg awalnya bisa menjadi “neraka” buat gw, berhasil gw sulap menjadi “surga” dan membuat gw kecanduan untuk menekuninya. Bekerja dari jam 8-16 pun berasa kurang, lembur sudah biasa bagi gw dan gw lakuin suka rela, tanpa ngarep ada tidaknya upah lembur. Jarak tempuh bekasi-serpong melalui edan-nya kondisi lalu lintas 3 provinsi (jkt-jabar-banten) PP via berkendara motor pun ga berarti ketika gw lalui. Masalah gaji yg tadinya menjadi salah satu alasan yg menarik gw buat pindah ke tempat yang lebih baik (baca: swasta) kini ga berarti lagi buat gw. Rasa syukur menjadi seorang PNS dan mindset “inilah ladang amal nyata gw” buat sedikit memperbaiki kondisi bangsa yg sedang sakit ini telah mengubah gw. Inilah yg gw sebut PASSION.

 

Selain faktor-faktor diatas, sebenernya ada salah satu hal penting lainnya. Faktor yg gw sebut sebagai pengunci dari beragam alasan yang menguatkan gw untuk tetep stay di mari. Yup, selain passion yang telah gw dapat di institusi ini melalui bidang riset yg ingin gw geluti lebih dalam, gw butuh pride atau kebanggaan. Pride yang tentu saja ga bisa gw impikan bila saja gw berkarir di tempat lain dan ga bisa gw bandingkan dengan materi yang telah dikasih institusi ini ke gw tentunya. Tak lain dan tak bukan adalah kebanggaan untuk bisa menempuh studi lanjut ke luar negeri. Kebanggaan yang muncul bukan tanpa alasan, tapi melalui proses pemikiran panjang yang bahkan ketika mimpi pun gw berani membayangkannya. Yup, sekali lagi, inilah yg gw sebut PRIDE.

 

Mimpi ini mungkin saja jadi hal biasa bahkan bagi anak muda dan fresh-graduaters saat ini, mengingat mudahnya akses informasi dan sudah banyak provider2 beasiswa luar negeri sekarang ini, sebut saja ADS, DAAD, Fulbright, Monbukagakusho, dll, tapi menjadi begitu luar biasa buat gw. Bukan saja karena gw seorang yg sangat pesimis dan sangat realistis, tapi lebih karena gw bukan orang luar biasa, dalam konteks pencapaian akademis dan juga modal kemampuan bahasa Inggris gw (ini yg paling utama), hal yang lumrah dipersyaratkan buat seorang yg ingin jadi scholarship awardee supaya bisa kuliah di luar negri. Buat gambaran ekstrimnya, gw kasih tau (walaupun agak malu), gw sendiri baru tau apa itu adjective, adverb, dan fungsi dari verb I, II, III itu setelah setahun gawe (hal yg seharusnya dipelajari anak SD). Kebetulan kantor gw ngadain kelas Basic English buat karyawannya. Disana lah pertama kalinya gw ikut kursus bahasa Inggris, setelah hampir 16 tahun (dari SD sampai tamat S1) belajar bahasa Inggris di kelas menjadi momok yang amat sangat menakutkan sekali buat gw (suer deh, ini real apa yg gw alami).

 

Oke, passion sudah gw dapat, dan pride sudah ditentukan, saatnya mewujudkan impian yg gw tersebut. Lima tahun inilah pembuktian gw, hingga muncul lah jargon penyemangat dalam diri gw “SEKOLAH KE LUAR NEGERI ATAU RESIGN”, yang menajamkan keinginan gw dan selalu gw tempel di otak gw. Ga mudah memang mencapainya (klo mudah mah, ga harus nunggu 5 taun gw buat sekolah lagi).

 

Pengalaman riset yg cukup terfokus di Institusi ini, Alhamdulillah, perlahan tapi pasti udah gw dapatkan, masalah bahasa Inggris lah hambatan terbesar dalam diri gw. Tak tangung-tanggung, beberapa les TOEFL Prep gw ikutin setelah sebelumnya ikut basic English class di kantor, hingga akhirnya gw manggil guru les privat untuk datang ke rumah gw. Namun semua usaha yg udah gw lakuin nampak belum memberikan hasil seperti yang diinginkan. Nilai TOEFL-ITP minimal yang dipersyaratkan oleh beasiswa Monbusho (550) pun ga mampu gw lewati, sampai gw berpikir mungkin gw ga ada bakat buat belajar bahasa L . Nilai TOEFL seadanya inilah yg mungkin menjadi penyebab gagalnya lebih dari 10 aplikasi beasiswa gw sebelumnya. Yup, memang impian menggebu-gebu ini lah yg mendorong gw untuk secara membabi-buta apply ke beberapa kesempatan beasiswa seperti Monbusho (G2G, U2U), Chevening, Quota Schme Norwegia dll.

 

Kalau saja saat itu gw ga terus berdoa untuk mohon petunjuk, bantuan, dan kekuatan hati, mungkin saat itu gw udah menyerah. Dan benar saja, Allah menunjukan kuasanya. Last minute, nama gw tercantum dalam peserta training English for Academic Purposes (EAP) padahal awalnya gw sempet ga lolos seleksi. EAP adalah sebuah program yg diinisiasi oleh Kemenristek untuk memfasilitasi PNS di lingkup institusi riset di Indonesia untuk belajar bahasa Inggris, sebagai persiapan sekolah ke luar negeri. Program ini cukup eksklusif, yup, kita belajar IELTS selama full 3 bulan di IALF Denpasar Bali, gratis dan fully sponsored. Inilah titik balik petualangan nyari beasiswa gw tahap ke 2.

 

Punya modal bahasa Inggris yang udah sedikit ter-upgrade plus pengalaman riset yg cukup lumayan terarah, bikin gw PD apply2 beasiswa lagi. Dan terbuktilah pepatah lama yang bilang “kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda” plus “selalu ada jalan bagi yang mau berusaha” dan “ketika satu pintu tertutup maka pintu-pintu lain terbuka”. Semua beasiswa yg gw apply setelah gw kursus di Bali membawa gw sampai ke tahap akhir seleksi (hal yang belum pernah gw alami sebelumnya karena selalu mentok di tahap seleksi berkas), hingga akhirnya membuat gw harus memilih diantara 3 pilihan beasiswa. Ya, inilah yg gw sebut hukum alam, seperti yang disebut dalam novel nya kang A. Fuadi berjudul Negeri 5 Menara,: “man jadda wajada, barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia (akan) mendapatkan”.

 

Sesungguhnya apa yg gw dapat saat itu adalah karunia dari Allah SWT, maka Dia lah yang Maha Tau mana pilihan (beasiswa) yang paling buat gw. Setelah istikharah, Inysa Allah beasiswa LPDP lah petunjuk-Nya. Dan semua berakhir (pencarian beasiswa) sekaligus bermula (sekolah lagi) dari titik ini. Bismillah.

 

demi Tuhan, Bangsa, dan Almamater….merdeka….

 

Sjaikhurrizal El Muttaqien

LPDP awardee Batch V (Desa Bhineka)

Master Program at Environmental Chemistry and Engineering Departement

Interdisciplinary Graduate School of Science and Engineering

Tokyo Institute of Technology –JAPAN

 

@elrizal20

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s