TOEFL – IBT® and IELTS®

Mungkin bagi scholarship hunter yg udah mencapai level “senior” uda familiar dengan dua test diatas, tapi bagi gw yg masih tergolong newbie, dan blm pernah ikutan les/preparataion untuk kedua jenis test diatas (terbiasa dengan TOEFL-ITP)  sempet kebingungan waktu disuruh submit aplikasi beasiswa MEXT U to U, bulan lalu  ke Tokyo krn disuruh submit TOEFL-IBT. Semoga sedikit celotehan gw mengisi waktu riset yg agak lenggang di akhir tahun 2012 ini bias jadi sedikit gambaran buat agan2 yg mau ambil English proficiency test, khususnya buat sesame scholarship hunter juga. Mohon koreksi klo ada yg kurang atau salah2 kate.

 

Sebelumnya, yg ada di otak gw, yg bikin beda dengan TOEFL, IELTS itu biasanya digunakan untuk apply sekolah/beasiswa ke negara2 spt Ingris, Australi, and New Zealand (british). Hal ini mudah dilihat dari persyaratan yg ada di website univ masing-masing Negara diatas yg cenderung lebih sering menggunakan score IELTS sbg persyaratan. Memang sih untuk apply beasiswa Australia (ADS) dan New Zealand (NZaid) persyaratan awal bhs Ingris yg diminta cuma TOEFL-ITP aja (minimal 500) untuk apply dokumen awal, tapi setelah kita masuk short list candidate alias lolos ke tahap berikutnya, kita diminta untuk mensubmit hasil IELTS kita. Sebagai bahan pertimbangan untuk lolos ke tahap seleksi berikutnya, hasil ini juga buat penyesuaian dengan persyaratan dari Univ disana yg applicant tuju saat apply beasiswa, yg kebanyakan minta syarat IELTS minimal 6,5. Begitu juga dengan persyaratan beasiswa Fulbright US, yg persyaratan awal minimal hanya minta TOEFL-ITP minimal 550. Setelah lolos tahap berikutnya, kita akan diminta ikut test TOEFL-IBT juga. Jadi ujung2 nya, kita harus mempersiapkan diri untuk ambil salah satu dari test diatas, yg lebih diakui secara internasional, tidak hanya siap untuk test TOEFL ITP yg menurut gw biasanya berlaku untuk penerimaan mhsiswa di univ dalam negri. Selain itu juga siapain duit lebih. Test ITP klo ga salah berkisar 300 ribu an, sedangkan test IELTS berkisar 1,9 juta an, dan TOEFL IBT sekitar 1,7 juta an.

 

Cerita dimulai dari sini. Yup, gw emang ngincer jepang buat lanjut S2.  Berbeda dengan beasiswa MEXT (biasa dikenal Monbusho) yg tipe G to G (yg apply nya di kedutaan besar Jepang), MEXT U to U biasanya minta TOEFL international, karena TOEFL paper based (TOEFL paper based beda loh dengan TOEFL ITP) udah ga lagi eksist di Indonesia, mau ga mau ya harus ambil TOEFL IBT. To the point, TOEFL IBT terdiri dari 4 section: reading, listening, speaking, and writing. Buku IBT yg gw beli di depan masjid salman ITB setahun lalu cukup membantu ternyata. Padahal waktu gw beli, ga ada rencana sama skali ambil test IBT. Buku ini cukup untuk memberikan overview buat newbie kyak gw tentang bagian2 yg ada di test IBT beserta tipikal soal2nya. Alhamdulillah juga gw dapet pinjeman buku IBT yg diterbitin sama ETS (sbg provider test nya TOEFL) dari mbak Swasmi, rekan di BPPT, thanks mba J. Buku Ets ini bisa dibilang lebih advance klo dilihat dr kualitas soalnya. Jd cukup lah 2 buku ini sebagai buku latihan buat yg msh newbie sama IBT.  Oh iya, kedua buku ini dilengkapi CD simulasi test dan bank soalnya juga.

 

Kembali ke laptop, klo liat ke sisi reading section, mungkin test IBT ga jauh beda dengan test ITP. Kita diberikan paragraph panjang, diikuti pertanyaan setelahnya. Hanya saja, sesuai namanya (Internet Based Test), semua test (dr reading sampe writing) dilakukan dengan komputer. Biasanya klo ITP kita sering bolak-balik halaman kertas buat liat paragraph dan soal di reading section, nah klo di IBT kita mainin scroll mouse J. Satu lagi, buat yg mudah pusing klo terlalu lama didepan komputer, hal ini jd tantangan bgt. Mungkin bias coba test IELTS. Perbedaan lain dengan ITP di section ini adalah tipe soalnya. Overall test IBT di reading and listening section itu emang pilihan ganda, tapi ditengah tengahnya ada tipe lain kyak soal “menjodohkan”, memilih 3 dari 6 pernyataan yg benar, dll. Di buku2 IBT preparation ada penjelasannya.

 

Untuk Listening section, saya kira ga jauh beda dengan ITP. Hanya saja, test IBT ini dilakukan individually, artinya kita medengarkan test ini langsung dr komputer kita masing-masing, dengan earphone, bukan seperti ITP yg biasanya pake sound terpusat. Tipe soalnya pun pilihan ganda, tapi ada alternative tipe soal lainnya, seperti di reading section.

 

Nah, untuk 2 test part berikutnya, speaking dan writing, bagi gw ini sempet menjadi momok yg menakutkan. Ya iyalah, buat yg terbiasa dengan ITP, kita ga menemukan tipe test ini disana. Langsung ke speaking test. Krn internet based, kita bakal ngomong ke komputer, alias omongan kita direkam oleh komputer dan dikirim online ke ETS di Amrik sono, beda dengan IELTS, dimana kita ngomong dengan native speaker, dan memungkinkan terjadinya dialog 2 arah. Di IBT speaking section ini dibagi menjadi 4 atau 5 part (cmiiw). Tiap part beda2, yg jelas kita diminta untuk menyampaikan pendapat kita terkait pertanyaan yg muncul. Yang jd perbedaan dr tiap part adalah tipe soalnya. Contohnya, part pertama bias dibilang paling simple, dilayar komputer tiba2 muncul pertanyaan simple (jawabannya blm tentu simple) dan kita diminta untuk menjawabnya. Misalnya, apakah kegiatan yg kamu lakukan di waktu luang? Kita diberi waktu 30 sekon untuk menjawab setalah dikasih waktu untuk berpikir tentunya (+- 10 sekon). Setelah itu sesi perekaman jawaban berhenti. Sesi berikutnya pertanyaan lebih komplek, namun dengan system yg sama, text pertanyaan muncul di layar. Contohnya, “mana yg lebih kamu pilih, makan bersama keluarga di rumah atau di restaurant? Sertakan alasannya” (tentunya pertanyaan dengan bhs ingris J) . Pertanyaan berikutnya lebih kompleks dari segi pertanyaan yg muncul dan bagaimana pertanyaan itu disampaikan. Contohnya, di part beikutnya kita harus membaca paragraph singkat tentang suatu event, dalam rentang waktu tertentu, paragraph tsb hilang dr layar komputer kita, kemudian berganti dengan dialog singkat antara 2/3 orang masih berkaitan dengan paragraph di awal. Nah pertanyaan nya bias aja kita disuruh meresume dr 2 sumber tadi, apakah dialog tadi mendukung paragraph atau malah mengcounter pernyataan yg ada di sana. “simple” kan? J Intinya, part ini meminta kita untuk bisa memahami paragraph dan conversation serta menarik kesimpulan diantaranya. Untuk speaking test di IELTS, kita akan ditest dengan conversation face two face dengan native speaker, yg tentu saja punya license sebagai penguji IELTS. Semua perbicangan direkam, takut2 suatu saat peserta test tidak puas dengan hasil speaking testnya, yg bersangkutan bisa “komplain”. Tapi untuk mekanismenya saya kurang paham. Buat yg ingin tau tentang gambaran seperti apa speaking test di IELTS, bisa searching di Youtube, banyak koq simulasi yg percis nya. Overall, didalam ruangan cuma ada peserta dan penguji, bergantian dengan peserta lain, untuk rentang waktu kurang lebih 15 menit. Secara isi, terdapat 3 part dlm section ini. Pertama adalah part dengan pertanyaan singkat. Kita ditanya beberapa pertanyaan sederhana seperti dimana kita tinggal, karakter unik tempat kita tinggal, dll. Part 2 kita akan diberi selembar kertas, berisi 3-4 pertanyaan dlm satu lingkup topik, misalnya tentang diet/kesehatan. Nah pertanyaan nya bisa tentang pendapat kita tentang kondisi kesehatan negara kita, permasalahan yg timbul, solusi, dll. Kesemua pertanyaan tersebut harus dijawab dalam 2 menit tanpa jeda, artinya, setelah preparation time habis (1 menit, dihitung setelah kita diberikan kertas),kita diminta berbicara yg isinya harus menjawab kesemua pertanyaan yg ada di dalamnya. Setelah 2 menit, selesai atau tidak selesai, penguji akan minta berhenti. Mungkin terlihat simpel, dan 2 menit terasa waktu yg singkat. Tapi di kondisi realnya, bagi yang kurang persiapan dan tidak terbiasa “melebarkan” topik bahasan, kesemua pertanyaan tersebut dapat dijawab dalam waktu 1 menit, terpaksa satu menit sisanya hanya diam saja atau mengulang apa yang sudah kita sampaikan. Tentu saja akan jd nilai minus bagi peserta test nantinya di skor akhir speaking test. Part 3 lebih sedikit kompleks. Disini akan terjadi perbincangan yang lebih intens sama hal nya dengan part 1 namun kualitas pertanyaannya lebih dalam. Secara topik, pertanyaan di part 3 masih ada kaitannya dengan part 2. biasanya 5-6 pertanyaan. Untuk kriteria penilaian di section ini, juga di writing section bisa disearch di internet, banyak banget soalnya. Tiap band ada deskripsinya, dan menditail. 

 

Untuk writing section, tantangan tersbesar dr test IBT adalah menulis cepat menggunakan komputer. Sebagian orang merasa lebih nyaman menulis tangan, mengingat besarnya kemungkinan typo/salah ketik bila menggunakan komputer. Dlm section ini, ada 2 part. Part pertama mirip dengan di speaking section, dimana kita diminta untuk meresume kan paragraph dan conversation dan menuliskan dengan kalimat kita sendiri benang merah kedua sumber tersebut. Klo ga salah minimal kata 150 dalam 20 menit. Untuk part berikutnya, kita diminta menuliskan pendapat kita tentang general issue, contohnya perkembangan teknologi, dll. Minimal kata 250 menit dengan waktu 40 menit.

 

Setiap section, nilai maks nya adalah 30. Jadi skor maksimal IBT ya 120. Biasanya nilai IBT 79 itu sama dengan ITP 550. Untuk persyaratan beasiswa bidang teknik biasanya minta skor 90, untuk hukum/ilmu sosial lainnya bisa minta skor 100.

 

Nah, sekarang kita ke IELTS. Alhamdulillah, bulan sept-november kmaren gw dapet kesempatan untuk blajar IELTS di IALF-Denpasar. Program dr Kemenristek buat peneliti2 di lembaga penelitian dibawah Kemenristek ini bias dibilang kyak durian runtuh bagi gw. Disinilah gw mengenal IELTS lebih dalam, walaupun ga ada niat untuk apply ke negara2 yg mempersyaratkan IELTS.

 

DI IELTS, sama kyak IBT, juga ada 4 sections. Kita mulai dr reading, dan listening. Kedua test ini dilakukan beruntun, dan menggunakan media tulis sbg lembar jawabannya, masing2 berjumlah 40 soal. Dan yang utama, kedua soal ada soal bertipe essay, bukan hanya pilihan ganda. Untuk listening, bisa dibilang ini menjadi momok buat gw. Jauh beda dengan IBT, test ini menuntut kemampuan aktif kita selain hanya kemampuan listening tentunya. Pada prinsipnya sama kyak IBT, kita diperdengarkan dengan rekaman, trus dikasih lembar soal dan jawaban, dimana dalam script/naskah di lembar soal yg rekamannya diperdengarkan tsb, ada celah/gap yg harus diisi, sesuai dengan apa yg kita dengar, dan spelling nya harus percis dengan yg kita dengar. Contohnya ketika kita mendengar kata “books” dan kita menjawab dengan “book” saja, ini sudah dianggap salah. Tipe fill in the blank ini cuma salah satu tipe dr beberapa tipe soal yg ada di IELTS. Ada juga soal pilihan ganda, yg menuntut kita untuk lebih memahami naskah percakapan yg kita dengar.

 

Di Reading section juga begitu. Kita ga cuma nemu soal pilihan ganda aja. Modifikasi tipe soal lebih banyak. Salah satu tipe soal di reding section yg paling “berkesan” buat peserta IELTS adalah tipe soal “true-false-not given”. Ya, scara prinsip sama kyak IBT, kita dikasih paragraph panjang dengan tema general, trus dikasih pernyataan, dan kita diminta menyimpulkan apakah pernyataan itu benar/salah/tidak tertera di paragraph yg kita baca. Tipe soal ini penuh dengan jebakan dan kita diminta menelaah pernyataan ini sedalam mungkin sblm menjawabnya.

 

Writing section nya ga jauh beda dengan IBT, hanya saja di IELTS kita menulisnya dengan tangan, boleh pake pensil atau pulpen. Part pertama kita dikasih gambar diagram, peta, atau proses produksi suatu produk. Nah kita diminta untuk menjelaskan gambar tersebut dengan sedetail-detailnya, harus sesuai dengan apa yg tertera disana, dalam 150 kata, 20 menit. Part ke dua hamper sama dengan pertanyaan IBT, issues general, dan meminta pendapat kita tentang hal tsb, bisa pro dan kontra energy nuklir dan dimana posisi kita menyikapinya, permasalahan yg timbul di kota besar serta solusi dr kita, dll. Waktu yg dikasih adalah 40 menit, dengan minimal kata 250.

 

Masing2 part punya skala 0-9. Nilai total dijumlahkan kemudian dibagi 4. Biasanya, beberapa univ untuk bidang science dan technlogi meminta syarat minimal 6,5 buat IELTS. Nilai tsb juga dipake ADS sbg nilai minimal untuk seleksi tahap ke dua beasiswa ini.

Sekian share nya, semoga bermanfaat.

 

Note:

Info mengenai IELTS bisa dilihat di: http://www.ielts.org/about_us.aspx

Info tentang IBT bisa dilihat di : http://www.ets.org/toefl

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s